Jumat, 03 Juni 2016

CONTOH TEKS NEGOSIASI : "Wakil Warga dengan Kepala Desa"




Teks Negosiasi Antara Wakil Warga dengan Kepala Desa
Karya : Leni Mauliani

            Pada suatu pagi, saat semua warga sedang memulai aktivitasnya, Pak Suryo, seorang wakil warga, hendak berkunjung ke rumah Kepala Desa untuk memperbincangkan masalah masjid yang sudah mulai retak dan kusam. 

Pak Suryo        :   “Assalammu’alaikum, Selamat pagi Pak.”
Pak Kades       :   “Waalaikumsalam, Selamat pagi. Eh, ada Pak Suryo, mari silakan masuk.”
Pak Suryo        :   “Iya, terima kasih.”
Pak Kades       :   “Ngomong-ngomong ada keperluan apa Bapak kemari?”

Pak Suryo       :  “Begini Pak Kades, saya sebagai perwakilan yang di tunjuk oleh warga, ingin   mengusulkan tentang pembangunan renovasi masjid RT 02/05. Karena menurut kami masjid tersebut temboknya sudah mulai retak, catnya sudah pudar dan ada beberapa keramik masjid yang sudah retak dan lepas.”

Pak Kades       :  “Oh, begitu. Ya, saya hargai usulan Bapak, akan tetapi menurut saya, masjid yang kita gunakan tersebut masih bagus dan tidak memerlukan renovasi.”

Pak Suryo       :  “Tapi Pak Kades, kita ini sudah mau memasuki bulan Ramadhan, dan pasti masjid pun akan lebih banyak digunakan dan dikunjungi oleh warga. Saya harap Pak Kades dapat mengabulkan permintaan para warga ini, dan semoga dapat terealisasikan dua minggu sebelum Ramadhan tahun ini.”

Pak Kades       :  “Kalau begitu, baiklah. Sepertinya saya pun setuju untuk pembangunan renovasi masjid, namun sepertinya saya hanya dapat merealisasikan pembangunan renovasi untuk keramik dan pengecatan saja. Bagaimana?”

Pak Suryo       :  “Kenapa tidak sekalian saja dengan perbaikan tembok yang retak, Pak? Kan biayanya pun bisa lebih hemat, dan renovasi pun lebih maksimal.”

Pak Kades       :  “Ya, memang akan lebih hemat dan maksimal. Namun, pembangunan renovasi masjid tersebut membutuhkan dana sumbangan warga untuk membeli barang dan bahan, selain itu untuk membayar tukang bangunannya. Apakah warga bersedia jika harus menyumbangkan lebih?”

Pak Suryo       :  “Bagaimana jika warga saja yang menjadi tenaga kerja untuk pembangunan renovasi masjid? Jadi warga tidak perlu menyumbangkan lebih dananya. Selain itu, lebih baik proses renovasi disekaliguskan dengan perbaikan tembok yang retak.”

Pak Kades       :  “Aduh, bagaimana ya Pak Suryo. Hal itu dapat saja terjadi, tetapi kita pun harus memikirkan waktu pengerjaan yang hanya 2 minggu. ”

Pak Suryo       :   “Memang benar waktunya sangat sedikit. Lalu bagaimana jika tidak seperti itu?”
Pak Kades       :  “Begini saja. Warga ikut serta dalam penyumbangan dana, dan menjadi tenaga kerja, tetapi hanya untuk renovasi keramik dan pengecatan saja. Untuk perbaikan tembok, kita lakukan nanti saja.” 

Pak Suryo        :   “Ya sudah, sepertinya hal tersebut sudah benar.”

Pak Kades       :   “Tetapi saya tetap harus merundingkan hal ini dengan warga yang lainnya juga. Tolong, Pak Suryo, untuk mengumpulkan warga di masjid pada besok malam, setelah waktu isya selesai.”

Pak Suryo       :  “Baik, Pak Kades. Terima kasih telah menerima usulan saya. Kalau begitu, saya pamit dulu.”

Pak Kades       :   “Ya, sama-sama.”
Pak Suryo        :   “Assalammu’alaikum.”
Pak Kades       :   “Waalaikumsalam.”

            Akhirnya, usulan Pak Suryo dapat diterima oleh Pak Kades, pembangunan renovasi masjid akan terlaksana. Namun untuk selanjutnya masih akan dirundingkan kembali.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar