Teks Negosiasi
Antara Wakil Warga dengan Kepala Desa
Karya
: Leni Mauliani
Pada suatu pagi, saat semua warga
sedang memulai aktivitasnya, Pak Suryo, seorang wakil warga, hendak berkunjung
ke rumah Kepala Desa untuk memperbincangkan masalah masjid yang sudah mulai
retak dan kusam.
Pak
Suryo : “Assalammu’alaikum, Selamat pagi Pak.”
Pak
Kades : “Waalaikumsalam, Selamat pagi. Eh, ada Pak
Suryo, mari silakan masuk.”
Pak
Suryo : “Iya, terima kasih.”
Pak
Kades : “Ngomong-ngomong ada keperluan apa Bapak
kemari?”
Pak Suryo : “Begini
Pak Kades, saya sebagai perwakilan yang di tunjuk oleh warga, ingin mengusulkan tentang pembangunan renovasi
masjid RT 02/05. Karena menurut kami masjid tersebut temboknya sudah mulai
retak, catnya sudah pudar dan ada beberapa keramik masjid yang sudah retak dan
lepas.”
Pak Kades : “Oh,
begitu. Ya, saya hargai usulan Bapak, akan tetapi menurut saya, masjid yang
kita gunakan tersebut masih bagus dan tidak memerlukan renovasi.”
Pak Suryo : “Tapi Pak Kades, kita
ini sudah mau memasuki bulan Ramadhan, dan pasti masjid pun akan lebih banyak digunakan
dan dikunjungi oleh warga. Saya harap Pak Kades dapat mengabulkan permintaan
para warga ini, dan semoga dapat terealisasikan dua minggu sebelum Ramadhan
tahun ini.”
Pak Kades : “Kalau begitu,
baiklah. Sepertinya saya pun setuju untuk pembangunan renovasi masjid, namun
sepertinya saya hanya dapat merealisasikan pembangunan renovasi untuk keramik
dan pengecatan saja. Bagaimana?”
Pak Suryo : “Kenapa tidak
sekalian saja dengan perbaikan tembok yang retak, Pak? Kan biayanya pun bisa
lebih hemat, dan renovasi pun lebih maksimal.”
Pak Kades : “Ya, memang akan lebih
hemat dan maksimal. Namun, pembangunan renovasi masjid tersebut membutuhkan
dana sumbangan warga untuk membeli barang dan bahan, selain itu untuk membayar
tukang bangunannya. Apakah warga bersedia jika harus menyumbangkan lebih?”
Pak Suryo : “Bagaimana jika warga
saja yang menjadi tenaga kerja untuk pembangunan renovasi masjid? Jadi warga
tidak perlu menyumbangkan lebih dananya. Selain itu, lebih baik proses renovasi
disekaliguskan dengan perbaikan tembok yang retak.”
Pak Kades : “Aduh, bagaimana ya Pak
Suryo. Hal itu dapat saja terjadi, tetapi kita pun harus memikirkan waktu
pengerjaan yang hanya 2 minggu. ”
Pak Suryo : “Memang benar waktunya sangat sedikit. Lalu
bagaimana jika tidak seperti itu?”
Pak Kades : “Begini saja. Warga
ikut serta dalam penyumbangan dana, dan menjadi tenaga kerja, tetapi hanya
untuk renovasi keramik dan pengecatan saja. Untuk perbaikan tembok, kita
lakukan nanti saja.”
Pak Suryo : “Ya sudah,
sepertinya hal tersebut sudah benar.”
Pak Kades : “Tetapi saya tetap
harus merundingkan hal ini dengan warga yang lainnya juga. Tolong, Pak Suryo,
untuk mengumpulkan warga di masjid pada besok malam, setelah waktu isya
selesai.”
Pak Suryo : “Baik, Pak Kades.
Terima kasih telah menerima usulan saya. Kalau begitu, saya pamit dulu.”
Pak Kades : “Ya, sama-sama.”
Pak Suryo : “Assalammu’alaikum.”
Pak Kades : “Waalaikumsalam.”
Akhirnya, usulan Pak Suryo dapat
diterima oleh Pak Kades, pembangunan renovasi masjid akan terlaksana. Namun
untuk selanjutnya masih akan dirundingkan kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar