Kamis, 31 Maret 2016

PUISI ANEKDOT " ROKOK ADALAH KEMATIAN"




ROKOK ADALAH KEMATIAN
Karya : Leni Mauliani
 


Aku sesak berada di dekatnya
Aku kesal melihatnya
Aku muak mendengar namanya
Dan aku bingung dengannya

Tapi mengapa banyak yang menyukainya
Orang-orang itu terlihat bahagia
Mereka senang di dekatnya   
bagaikan romeo juliet yang selalu ingin bersama

mereka mengundang mautnya sendiri
mereka senang menghampiri kematian
ya, kematian itu adalah rokok
si kecil yang mematikan

menurutku mereka pintar tapi bodoh
mungkin mereka tau tapi tak tau
sudah tak peduli dengan dirinya sendiri
apakah mereka bosan hidup?

Apa aku saja yang merasa
Kalau orang-orang itu tidak waras
Oh, sepertinya mereka mencoba
Mencoba cara baru untuk mati

Sensasi dalam pikir membuatnya menarik
Rokok membunuh dengan caranya sendiri
Natural, perlahan, murah
Dan tentunya bagi mereka itu nikmat

Ahh, aku semakin heran dengannya
Siapa sebenarnya yang menciptakan rokok?
Pikirnya konyol dan tak baik
Kecewa aku dengan siapa pun itu

Banyak orang yang merasa keren dengan merokok
Keren apa? Coba beri tahu aku
Apa paru-paru bolong itu keren?
Apa tenggorokan bengkak itu keren?

Atau gigi yang kuning itu keren?
Apa kerennya dari semua itu?
Cepatlah beri tahu aku
Apa alasanmu merokok?

Hanya setumpuk beban pikiran saja
 Masalah hidup yang membuatmu merokok?
 Lalu kau terus tergoda padanya
 Terlena dengan sensasi berselimiut bahaya

Kalau begitu, jatuhkan saja dirimu ke sungai
Semua beban dan masalahmu pasti akan hilang
Dan bukan itu saja, nyawamu juga akan melayang
Lebih cepat seperti itu kan?
Yang lain pun tak kan terganggu

Ayo, sudahkah kau pikirkan?
Sudahkah kau tahu?
Sudahkah kau sadar?
Hanya sisi negatif yang selalu ada pada rokok

Sabtu, 26 Maret 2016

HASIL RISET TENTANG PUNCAK JAYA WIJAYA, PAPUA





Gunung Jayawijaya, Puncak Tertinggi di Indonesia

Puncak jayawijaya adalah puncak tertinggi di Indonesia yang terletak di Pulau Papua lebih tepatnya di pegunungan jayawijaya. Gunung Jayawijaya adalah satu satunya tempat di Indonesia yang terdapat salju. sering disebut salju abadi, karena nama tersebut sesuai dengan kondisi puncak gunung yang memang tertutupi oleh lapisan salju. Mendengar ada salju di puncak gunung di daerah tropis seperti di Indonesia sepertinya mustahil. Daerah tropis memang tidak akan pernah mengalami hujan salju maka sedikit aneh mendengar fenomena alam tersebut. Tapi memang itulah kenyataannya yang mana salju di puncak gunung jayawijaya itu asli. Salju yang menutupi puncak gunung Jayawijaya terjadi karena tingginya gunung tersebut. Ketinggian gunung Jayawijaya menjadikannya sebagai salah satu dari 7 gunung tertinggi di dunia (seven summits).
Begitu mendengar 7 gunung tertinggi, para pendaki mana yang tidak tertantang untuk menaklukannya. Menjerit sekeras – kerasnya di puncak tertinggi, merasakan kemenangan karena telah berhasil menaklukan salah satu gunung tertinggi dengan usahannya sendiri. Terlebih di Puncak Jayawijaya yang medannya sangat sulit, dibutuhkan teknik khusus untuk berhasil menaklukan gunung jayawijaya ini dan hanya pendaki – pendaki profesional saja yang diizinkan untuk mendaki Gunung Jayawijaya. Karena puncak tertinggi antara Himalaya dan Andes ini memiliki tiga titik pendakian tersulit dari lima titik pendakian.
Gunung jayawijaya ini banyak dikenal oleh pendaki gunung sebagai Piramida Carstensz yang memiliki ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut. Salah satu puncak tertinggi di muka Bumi ini telah menarik minat – gletser abadi di garis Khatulistiwa, terutama para petualang dan pendaki gunung yang ingin mencapai gletser tertingginya di kepulauan tropis Nusantara
Orang pertama yang menaklukan Gunung Jayawijaya malah bukan orang Indonesia, dia adalah Heinrich Harrer, bersama tiga temannya Huizinga, Kippax dan Temple. Heinrich Harrer memutuskan untuk menaklukan Puncak Jaya Wijaya setelah kembali dari tibet tahun 1950, dia kembali dari tibet setelah 12 tahun mengeskplorasi daerah tersebut dan berhasil membuat maha karya yaitu sebuah buku yang sangat terkenal berjudul “7 Tahun di Tibet”. Pada tahun 1962 Heinrich Harrer melakukan perjalanannya ke Papua, Indonesia dan berhasil untuk pertama kalinya menjadi penakluk Puncak Jaya Wijaya.
Menurut teori geologi, awalnya dunia hanya memiliki sebuah benua yang bernama Pangea pada 250 juta tahun lalu. Benua Pangea pecah menjadi dua dengan membentuk benua Laurasia dan benua Eurasia. Benua Eurasia pecah kembali menjadi benua Gonwana yang di kemudian hari akan menjadi daratan Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia. Pengendapan yang sangat intensif terjadi di benua Australia, ditambah terjadinya tumbukan lempeng antara lempeng Indo-Pasifik dengan Indo-Australia di dasar laut. Tumbukan lempeng ini menghasilkan busur pulau, yang juga menjadi cikal bakal dari pulau dan pegunungan di Papua. Akibat proses pengangkatan yang terus-menerus, sedimentasi dan disertai kejadian tektonik bawah laut, dalam kurun waktu jutaan tahun menghasilkan pegunungan tinggi seperti yang bisa dilihat saat ini. Bukti bahwa Pulau Papua beserta pegunungan tingginya pernah menjadi bagian dari dasar laut yang dalam dapat dilihat dari fosil yang tertinggal di bebatuan Jayawijaya.


JEJAK PETUALANG TRANS7
Menuju Puncak Carstensz Jayawijaya Indonesia


Video ini menceritakan tentang perjalanan yang harus dilalui untuk mencapai puncak gunung Carstensz. Perjalanan dimulai dari kaki gunung, banyak pendaki yang melakukan perjalanan ini. Sebelum mendaki, semua peralatan yang dibutuhkan harus tersedia dengan lengkap dan rapi. Selain itu, fisik dan mental para pendaki pun harus dalam kondisi yang baik dan fit. Perjalanan yang dilalui begitu curam dengan banyaknya bebatuan di sepanjang jalan. Para pendaki juga, harus melalui jurang diantara lembah untuk menyebrang ke sisi jalan gunung, dengan menggunakan tali sebagai jembatan, dan harness sebagai pengaman bagi para pendaki. Mereka harus melalui tali tersebut dengan cara menggantung.
Setelah selesai, mereka masih harus melakukan pendakian menuju puncak gunung. Namun, perjuangan mereka tidak sia-sia, para pendaki tersebut berhasil mencapai puncak gunung Carstensz pada waktu yang sudah mulai malam. Para pendaki tersebut pun terlihat sangat senang dan bangga telah menaklukan “Si Gunung Carstensz dengan Salju Abadiya”.


GUNUNG JAYAWIJAYA
Puncak Jayawijaya Bersalju

Video ini menceritakan tentang suatu tempat, dimana salju berada, di Indonesia. Salju yang yang selalu ada walau musim berganti. Tempat itu adalah gunung Jayawijaya (Carstensz ), di Papua, Indonesia. Ada enam puncak di gunung tersebut, dan salju abadi hanya ada di empat puncak utama. Namun saat ini, salju yang berada di puncak gunung Jayawijaya mulai menipis, dikarenakan kondisi Global Waming  pada bumi.
Puncak Jaya adalah puncak tertinggi dengan ketinggiannya yang mencapai 4884m diatas permukaan laut. Puncak Jayawijaya disebut sebagai salah satu dari tujuh puncak gunung tertinggi di Asia. Dahulu, puncak Jayawijaya merupakan dasar laut dari benua Asia, buktinya adalah banyak ditemukan fosil kerang laut di puncak tersebut.







Puncak Jaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Artikel ini adalah tentang gunung di Papua. Untuk kabupaten, lihat Kabupaten Puncak. Untuk kegunaan lain, lihat  dan Kabupaten Puncak Jaya
Puncak Jaya
4.884 m (16.024 kaki)
Lokasi
Letak
Puncak Jaya ialah sebuah puncak yang menjadi bagian dari Barisan Sudirman yang terdapat di Provinsi Papua, Indonesia. Puncak Jaya mempunyai ketinggian 4.884 m dan di sekitarnya terdapat gletser Carstensz, satu-satunya gletser tropika di Indonesia, yang kemungkinan besar segera akan lenyap akibat pemanasan global.Puncak ini merupakan gunung yang tertinggi di Indonesia kawasan Oceania. Puncak Jaya adalah salah satu dari tujuh puncak dunia.

Penemuan

Dataran tinggi di sekitar puncak awalnya sudah dihuni sebelum adanya kontak dengan bangsa Eropa, dan puncaknya dikenal sebagai Nemangkawi di Amungkal. Puncak Jaya sebelumnya bernama Piramida Carstensz setelah penjelajah Belanda Jan Carstenszoon menamainya ketika pertama kali melihat gletser di puncak gunung pada hari yang cerah pada tahun 1623.
Padang salju (gletser) Puncak Jaya berhasil didaki pada awal tahun 1909 oleh seorang penjelajah Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz dengan enam orang suku Kenyah yang direkrut dari Apau Kayan di Kalimantan Utara. Taman Nasional Lorentz yang juga meliputi Piramida Carstensz, didirikan pada tahun 1919 menyusul laporan ekspedisi ini.

Sejarah Pendakian

Pada tahun 1936, ekspedisi Carstensz yang diprakarsai Belanda, tidak mampu menetapkan dengan pasti yang mana dari ke tiga puncak adalah yang tertinggi, memutuskan untuk berusaha mendaki masing-masing puncak. Anton Colijn, Jean Jacques Dozy, dan Frits Julius Wissel mencapai padang gletser Carstensz Timur dan Puncak Ngga Pulu pada 5 Desember. Karena gletser yang mencair, ketinggian Puncak Ngga Pulu menjadi 4.862 meter, tetapi telah diperkirakan bahwa pada tahun 1936 (ketika gletser masih tertutup puncak seluas 13 kilometer persegi), Ngga Pulu memang puncak yang tertinggi dengan ketinggian lebih dari 5.000 meter.
Setelahnya Puncak Jaya tidak pernah didaki sampai tahun 1962, oleh sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh pendaki gunung Austria, Heinrich Harrer, dengan tiga anggota ekspedisi lainnya, Robert Philip Temple, Russell Kippax, dan Albertus Huizenga. Philip Temple dari Selandia Baru, sebelumnya memimpin ekspedisi ke daerah dan merintis rute akses ke pegunungan.
Pada tahun 1963, puncak ini berganti nama menjadi Puncak Soekarno, setelah itu kemudian diganti menjadi Puncak Jaya. Nama Piramida Carstensz sendiri masih digunakan di kalangan para pendaki gunung.

Gletser

Sementara Puncak Jaya masih sedikit tertutup es, ada beberapa gletser di lereng, termasuk Gletser Carstensz, Gletser Northwall Firn Barat, dan Gletser Northwall Firn Timur, baru-baru ini dikabarkan lenyap.
Gletser di Puncak Trikora di Pegunungan Maoke menghilang sama sekali dalam kurun waktu antara 1939 dan 1962. Sejak tahun 1970-an, bukti dari citra satelit menunjukkan gletser Puncak Jaya telah menyusut dengan cepat. Gletser Meren mencair antara tahun 1994 dan 2000. Sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Lonnie Thompson paleoclimatologist pada tahun 2010 menemukan bahwa gletser menghilang pada tingkat ketebalan 7 meter per tahun dan akan lenyap sama sekali pada tahun 2015.

Nama Lain

Nama-nama/ejaan lain:
  • Nemangkawi
  • Puncak Jayawijaya
  • Ngga Pulu ("Ngga" berarti gunung)
  • Gunung Carstensz
  • Piramida Carstensz
  • Puncak Carstensz
  • Puncak Jayadikesuma
  • Ndugundugu